Risalah Bali -Bab VII-

Malang, mandi itu hukumnya wajib

Hari sudah pagi, saat-saat sudah mendekati Malang. Perkiraan VWH kereta akan sampai sekitar jam 9 pagi ini. Semoga benar. Sekelilingku, para penumpang yang lain masih banyak yang tidur. Udara memang begitu dingin. Kalau di Jakarta saat-saat seperti ini pasti semuanya sudah sibuk, tidak ada yang bisa benar-benar menikmati pagi, menghayati dinginnya. Semua terburu waktu untuk sampai ke tempat beraktivitas.

Aku sibuk memperhatikan pemandangan di luar kereta. Sunguh, aku tak berbohong kereta ini sedang menembus halimun. Mungkin ini yang membuat suasana begitu dingin. Berkali-kali masinis membunyikan klakson kereta. Memekik-mekik, memecah pagi. Aku tidak tahu tepatnya mengapa ia melakukan itu, dugaanku itu dilakukan sebagai penanda agar para penyeberang rel berhati-hati.

Akhirnya, semua rekan perjalanan ini bangun juga. Kalau aku lihat dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, kursi-kursi penumpang sudah banyak yang kosong. Mereka sudah turun di kota-kota sebelum Malang.

Malang, kami tiba di sana sekitar jam setengah sepuluh. VWH tanpa menunggu aba-aba langsung menuju loket untuk menanyakan keberangkatan kereta api jurusan Banyuwangi. Tak berapa lama ia kembali ke kami dengan berita.

“Kita punya waktu sampai jam satu siang nanti untuk istirahat. Loket baru di buka jam segitu, keretanya sendiri baru jalan jam 2-an.” Kata VWH.

RWY menimpali, “ya cukuplah untuk bongkar muatan dan bersih-bersih.”

Bergeraklah kami dari stasiun. Masjid tujuan kami. Begitu di luar kami diberondong tawaran untuk jasa untuk mengantarkan kami, tentu saja sesuai keinginan. Semuanya kami tersenyum saat ada yang menawarkan angkutannya menuju Bromo.

“Nggak pak, kami mau mencari masjid. Dimana ya pak?” VWH mewakili kami bertanya.

Jawaban berikut benar-benar menunjukkan kepentingan.

“Wah jauh mas dari sini, mending naik angkot aja.” Ujar seorang bapak.

VWH menjawab tawaran bapak itu dengan cengengesan khasnya, “jalan aja pak!”

Bapak itu mundur teratur.

Tak puas dengan jawaban bapak tadi, bertanyalah kami dengan bapak yang lain tak jauh dari titik yang pertama. Jawaban kedua ini sungguh berbeda dengan yang pertama.

“Dekat kok mas, paling cuma lima menit kalau jalan. Sampean lurus aja nanti belok kanan.”

Jawaban memang sangat tergantung kepentingan, sungguh sangat tergantung. Untuk itu aku mengingatkan kalian untuk hati-hati dalam menerima jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan.

Kami menyusuri jalan pusat kota Malang itu. Di depan sudah ada tugu kota ini. mengelilingi tugu itu terdapat gedung kantor bupati, DPRD, SMA N 1 Malang, serta beberapa gedung penting lainnya. Tiba-tiba RWY bertanya padaku:

“Ini mandi wajib apa mandi sunah?”

Aku tergagap mendapat pertanyaan ini. Memang dari tadi yang paling ngotot untuk mencari masjid dengan alasan ingin mandi adalah aku sementara yang lain lebih memilih untuk mencari makanan terlebih dahulu. Maklum dari pagi sebagian besar belum sarapan. Hanya kawan Kanul yang menyetujui usulku, alasannya:

“Muka gua dah tebel nich rasanya. Paling nggak kita cuci muka dululah.”

Kembali ke pertanyaan RWY.

Karena sudah terpojok seperti ini aku tidak bisa lagi mengelak untuk menjawab tentu dengan perasaan campur aduk

“Wajib!”

Singkat, tapi cukup membuat semuanya tertawa. Ya, lelucon pengawal hari memang. Pada mereka, atau mungkin pada kalian ini terdengar lucu atau malah konyol. Walaupun RWY setelah tertawa menghiburku dengan menyatakah hal itu wajar, siklus biologis, namun tahukah ia betapa menderitanya aku tadi pagi, tepatnya subuh tadi.

Anda semua bayangkan, anda berada di angkutan umum jarak jauh. Anda jauh dari rumah anda, kemudian ketika anda bangun tidur hal “itu” terjadi pada anda. Belum, itu belum semua. Tentu saja anda harus membersihkannya, kecuali anda mengalami fiksasi pada masa anal, yang bisa nyaman dengan semua hal kotor bahkan terbiasa dengan itu. Selanjutnya, kita tentu bersepakat untuk menuju toilet karena di sanalah sumber air berada. Di sinilah klimaksnya saudara. Empat gerbong, delapan toilet, pukul empat pagi, aku datangi dengan perasaan tidak menentu karena sebentar lagi waktu subuh. Semuanya mati, tidak ada yang mengucurkan air. Memaki tidak ada gunanya saat ini.

Aku hanya berpesan, sebelum berangkat jauh, berdoalah agar peristiwa “ini” tidak terjadi pada anda. Terutama anda, para laki-laki.

Iklan
Published in: on 11 November 2010 at 5:31 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://muhammadakhyar.wordpress.com/2010/11/11/risalah-bali-bab-vii/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: