Risalah Bali -Bab VII-

Malang, mandi itu hukumnya wajib

Hari sudah pagi, saat-saat sudah mendekati Malang. Perkiraan VWH kereta akan sampai sekitar jam 9 pagi ini. Semoga benar. Sekelilingku, para penumpang yang lain masih banyak yang tidur. Udara memang begitu dingin. Kalau di Jakarta saat-saat seperti ini pasti semuanya sudah sibuk, tidak ada yang bisa benar-benar menikmati pagi, menghayati dinginnya. Semua terburu waktu untuk sampai ke tempat beraktivitas.

Aku sibuk memperhatikan pemandangan di luar kereta. Sunguh, aku tak berbohong kereta ini sedang menembus halimun. Mungkin ini yang membuat suasana begitu dingin. Berkali-kali masinis membunyikan klakson kereta. Memekik-mekik, memecah pagi. Aku tidak tahu tepatnya mengapa ia melakukan itu, dugaanku itu dilakukan sebagai penanda agar para penyeberang rel berhati-hati.

Akhirnya, semua rekan perjalanan ini bangun juga. Kalau aku lihat dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, kursi-kursi penumpang sudah banyak yang kosong. Mereka sudah turun di kota-kota sebelum Malang.

Malang, kami tiba di sana sekitar jam setengah sepuluh. VWH tanpa menunggu aba-aba langsung menuju loket untuk menanyakan keberangkatan kereta api jurusan Banyuwangi. Tak berapa lama ia kembali ke kami dengan berita.

“Kita punya waktu sampai jam satu siang nanti untuk istirahat. Loket baru di buka jam segitu, keretanya sendiri baru jalan jam 2-an.” Kata VWH.

RWY menimpali, “ya cukuplah untuk bongkar muatan dan bersih-bersih.”

Bergeraklah kami dari stasiun. Masjid tujuan kami. Begitu di luar kami diberondong tawaran untuk jasa untuk mengantarkan kami, tentu saja sesuai keinginan. Semuanya kami tersenyum saat ada yang menawarkan angkutannya menuju Bromo.

“Nggak pak, kami mau mencari masjid. Dimana ya pak?” VWH mewakili kami bertanya.

Jawaban berikut benar-benar menunjukkan kepentingan.

“Wah jauh mas dari sini, mending naik angkot aja.” Ujar seorang bapak.

VWH menjawab tawaran bapak itu dengan cengengesan khasnya, “jalan aja pak!”

Bapak itu mundur teratur.

Tak puas dengan jawaban bapak tadi, bertanyalah kami dengan bapak yang lain tak jauh dari titik yang pertama. Jawaban kedua ini sungguh berbeda dengan yang pertama.

“Dekat kok mas, paling cuma lima menit kalau jalan. Sampean lurus aja nanti belok kanan.”

Jawaban memang sangat tergantung kepentingan, sungguh sangat tergantung. Untuk itu aku mengingatkan kalian untuk hati-hati dalam menerima jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan.

Kami menyusuri jalan pusat kota Malang itu. Di depan sudah ada tugu kota ini. mengelilingi tugu itu terdapat gedung kantor bupati, DPRD, SMA N 1 Malang, serta beberapa gedung penting lainnya. Tiba-tiba RWY bertanya padaku:

“Ini mandi wajib apa mandi sunah?”

Aku tergagap mendapat pertanyaan ini. Memang dari tadi yang paling ngotot untuk mencari masjid dengan alasan ingin mandi adalah aku sementara yang lain lebih memilih untuk mencari makanan terlebih dahulu. Maklum dari pagi sebagian besar belum sarapan. Hanya kawan Kanul yang menyetujui usulku, alasannya:

“Muka gua dah tebel nich rasanya. Paling nggak kita cuci muka dululah.”

Kembali ke pertanyaan RWY.

Karena sudah terpojok seperti ini aku tidak bisa lagi mengelak untuk menjawab tentu dengan perasaan campur aduk

“Wajib!”

Singkat, tapi cukup membuat semuanya tertawa. Ya, lelucon pengawal hari memang. Pada mereka, atau mungkin pada kalian ini terdengar lucu atau malah konyol. Walaupun RWY setelah tertawa menghiburku dengan menyatakah hal itu wajar, siklus biologis, namun tahukah ia betapa menderitanya aku tadi pagi, tepatnya subuh tadi.

Anda semua bayangkan, anda berada di angkutan umum jarak jauh. Anda jauh dari rumah anda, kemudian ketika anda bangun tidur hal “itu” terjadi pada anda. Belum, itu belum semua. Tentu saja anda harus membersihkannya, kecuali anda mengalami fiksasi pada masa anal, yang bisa nyaman dengan semua hal kotor bahkan terbiasa dengan itu. Selanjutnya, kita tentu bersepakat untuk menuju toilet karena di sanalah sumber air berada. Di sinilah klimaksnya saudara. Empat gerbong, delapan toilet, pukul empat pagi, aku datangi dengan perasaan tidak menentu karena sebentar lagi waktu subuh. Semuanya mati, tidak ada yang mengucurkan air. Memaki tidak ada gunanya saat ini.

Aku hanya berpesan, sebelum berangkat jauh, berdoalah agar peristiwa “ini” tidak terjadi pada anda. Terutama anda, para laki-laki.

Published in: on 11 November 2010 at 5:31 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Risalah Bali -Bab VI-

Clinician’s intermezzo

Setelah hari gelap kejadian-kejadian di luar gerbong kereta api ini nyaris tak terlihat. Malam pertama di kereta api. Aku dan yang lainnya sudah mengawalinya tadi dengan menunaikan shalat Maghrib dan Isya. Walaupun di dalam kereta, aku berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapkan wajahku ke kiblat. Untuk itu, aku harus meminjam benda yang terus di pegang-pegang dari tadi oleh RWY, kompas. Arah Barat sedikit ke Utara.

Makan malam, bekal dari stasiun Jatinegara sudah dibuka dan kami santap. Yah, walaupun menunya sederhana tapi karena perut ini sudah kosong digoyang terus-menerus gerbong kereta kiri-kanan enak juga jadinya. Aku lihat penumpang-penumpang yang lain hampir semuanya sudah mulai mencoba tidur. Beberapa saja di dekat deretan bangku kami yang tampaknya masih belum bisa tidur. Mereka masih saja melihat kami, mengobservasi kami. Mau tahukah kalian semua apa yang sedang kami lakukan? Paragraf berikutnya akan mengungkapkan semuanya.

Gerombolan ini adalah mahasiswa-mahasiswa psikologi. Bagaimanapun itu, di manapun itu, kapanpun itu identitas ini tak bisa tidak terus saja menempel. Parahnya identitas ini dilengkapi serangkaian pengetahuan pas-pasan mengenai psikologi dalam hal ini psikologi klinis. Pengetahuan pas-pasan inilah yang coba kami praktikkan di sini. Walaupun rekan Dahyan, Didit, Hardjo, dan Al juga mengambil peminatan Psikologi Klinis, tetapi yang paling semangat untuk mempraktikkan ilmu pada malam itu adalah Aku dan tentu saja kawan Kanul.

Apakah kalian pernah mendengar tes psikologi yang bernama HTP alias the house-tree-person? Untuk jelasnya sebaiknya kalian googling aja nama alat tes itu. Namun, untuk sementara bolehlah aku memberikan sedikit penjelasan untuk dua alat tes ini. Berikut penjelasan sederhana pengertian alat tes ini:

HTP adalah alat tes psikologi yang bersifat proyektif. Cara pengerjaannya sangat sederhana, seorang psikolog meminta kliennya untuk menggambar rumah, pohon, dan manusia pada sehelai kertas kosong. Uniknya, dari gambar yang dibuat klien tadi, psikolog yang sudah berpengalaman dengan mudah dapat mengetahui kepribadian seseorang dan hubungannya dengan orang lain secara umum.

Menganalisis kepribadian umum anggota gerombolan memakai alat tes inilah -karena tidak ada kesibukan lain- kami jadikan semacam pengisi waktu luang untuk saling menganalisis pribadi masing-masing. Karena tampaknya yang lain tidak terlalu tertarik untuk berperan sebagai penganalisis hasil tes maka aku dan kawan Kanul yang berperan sebagai klinisiannya. Korban kami dalam permainan berbahaya ini, ialah Didit. Ia, meskipun termasuk mahasiswa speminatan klinis, tetapi karena masalah gangguan bangun paginya yang akut ia tidak mengikuti kuliah yang membahas alat tes ini. Ini juga salah satu alasan ia untuk rela menjadi korban analisis dua klinisian gadungan. Kami berdua meminta Didit untuk menggambar ketiga benda tadi pada satu kertas yang kami sediakan.

Sepuluh menit berlalu.

Setelah Didit selesai, kami (Aku dan kawan Kanul) mulai berdiskusi untuk menganalisis gambar Didit. Inilah hasil analisis kami:

Orangnya terbuka dengan orang lain (dengan catatan) ditandai dengan banyaknya jendela yang berada di dinding rumah yang digambarnya.

Catatan untuk poin di atas, untuk membuat dia terbuka kepada kita agak sulit karena di gambarnya ia tidak memberi jalan untuk menuju rumah yang digambarnya.

Didit lebih dekat dengan ibunya ketimbang ayahnya, bisa dilihat dari gambar orang yang dibuatnya lebih dekat dengan gambar rumah dari pada gambar pohon.

Walaupun, ia kurang dekat dengan ayahnya tetapi ia tetap bangga dengan ayahnya, hal ini kami simpulkan karena ia menggambar pohon dengan cukup detail.

Inilah beberapa poin yang kami ajukan ke Didit tentang gambarnya. Beberapa poin ternyata benar, beberapa poin tidak terlalu tepat walau tidak mutlak salah. Namun begitu walaupun ini kami anggap main-main, aku berpesan pada kalian:
Please, don’t try it at home!

Published in: on 11 November 2010 at 5:29 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Risalah Bali -Bab V-

Banci tentu saja tidak semanis tebu

“Wah itu rumput ya?” Tanya Al polos.

Seperti kodratnya, manusia itu tampaknya ingin menjadikan dirinya dianggap penting oleh orang lain. Salah satu cara yang biasa dilakukan adalah menunjukkan ke orang lain, bahwa “saya memiliki apa yang anda tidak punya”. Hal ini sebenarnya biasa saja jikalau manajemen penyampaian hal ini –saya memiliki apa yang anda tidak punya-.disampaikan dengan elegan sehingga orang tidak tersinggung dan merasa direndahkan ketika kita menunjukkan kelebihan kita. Hal inilah mungkin yang harus dipelajari oleh dua orang ini: VWH dan Aku.

Ya, demi mendengar pertanyaan polos tadi bukannya mencoba untuk menjelaskan terlebih dahulu, malah VWH dan aku tertawa dengan keras sekeras-sekerasnya. Maklumlah kami merasa pertanyaan ini adalah hal lucu. Betapa mengerikannya jikalau benar ada rumput (ingat penggunaan kata rumput di sini bukan dalam pengertian keilmuan biologi sebagai klasifikasi tumbuhan, tapi rumput dalam pengertian yang kita kenal sehari-hari), sebagaimana dilihat Al ini, memiliki tinggi lebih dari 2 meter dengan batang mencapai diameter 10 cm.

Sebesar apa kira-kira nanti baling-baling pemotong rumput yang diperlukan. Mungkin kita harus menyewa helikopter yang bisa terbang terbalik untuk memotong rumput-rumput sebesar itu. Ha ha ha … masih saja tawa berlanjut.

Tidak enak juga kalau tertawa terlalu lama. Aku akhirnya menjawab pertanyaan Al, kalau tumbuhan yang makin sering terlihat di pinggiran rel kereta api itu adalah tumbuhan tebu. Penjelasanku tidak hanya sampai di situ. Hal ini kupikir sebagai penebus dosa akibat menertawakan dia tadi. Dengan pengetahuan sejarah yang cetek ditambah informasi dari novel-novel Pram yang selama ini aku baca, mulailah aku berceramah tentang tebu.

“Kalian tahu tidak, ketika di abad ke 19 Indonesia yang masih dikenal sebagai Hindia Belanda adalah penghasil gula terbesar di dunia, hingga negeri-negeri lain menemukan tumbuhan penghasil gula lain seperti bit, jagung dan beberapa lagi. Dari penghasilan gula-gula tebu yang luar biasa inilah negeri yang menjajah kalian, Belanda, itu mampu bertahan hidup. Tidak hanya itu, orang-orang Belanda yang menguasai akses terhadap tebu dikenal sebagai orang kaya luar biasa.”

“Pada saat itu tebu tidak lagi menjadi sekedar komoditas pangan, tapi sudah menjadi komoditas politik. Tak ubahnya sekarang, pemerintah berkuasa saat ini dan sebelum-sebelumnya telah menjadikan beras sebagai komoditas politik bukan hanya makanan pokok utama bangsa ini. Ups, bahkan dengan aku tadi menyatakannya makanan pokok utama bangsa ini, aku pun telah ikut-ikutan mempolitisir beras. Kembali ke tebu. Pada saat itu begitu banyak penindasan-penindasan terhadap rakyat yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pemilik tebu. Tidak ada yang berani menentang karena harap diketahui hal ini secara diam-diam dilindungi oleh pemerintahan Belanda yang ada di Indonesia. Makanya pada saat itu kalau ada pemberitaan miring yang bersangkutan dengan tebu, maka koran yang memuat berita itu harus siap-siap diberangus.”

Aku menyukupkan ceramahku.

Tiba-tiba ada pemandangan mengerikan datang menghampiri kami. Apalagi kalau bukan banci yang sedang mengamen. Kalau hanya menyanyi saja yang dia lakukan tentu kita masih merasa tenang. Di sini, saat ini, aku melihat dia tidak cukup hanya bernyanyi tapi juga memegang-megang penumpang di dekat tempat mereka. Sungguh mengerikan, aku berdoa kepada Allah SWT:

“Ya Allah lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk dan banci yang berwajah buruk.”

Alhamdulillah, doaku dikabulkan. Dia melewati saja aku ketika bernyanyi. Tapi siapa menyangka, bencana itu ternyata tidak menyentuhku. Hanya saja bencana itu menyentuh salah satu gerombolan kami. Mungkin ini adalah salah satu penebusan dosa yang dilakukan olehnya tadi. Yup, VWH berkali-kali di pegang-pegang, bukan tepatnya dibelai tepat di wajah dan kaki. Pelajaran sore ini, kalau berdoa sebaiknya untuk kebaikan bersama jangan untuk kepentingan pribadi.

“Ya Allah lindungilah perjalanan kami ini.” Aku mulai menggunakan kami, alih-alih aku.

Published in: on 11 November 2010 at 5:28 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Risalah Bali -Bab IV-

Ekonomis tapi kaya rasa

Aku percaya bahwa sebenarnya hal terpenting dari sebuah alat transportasi adalah 3 K. kecepatan, keamanan, kenyamanan. Namun, apakah dengan membayar uang 55 ribu Rupiah anda berharap banyak untuk mendapatkan itu. Ingat perjalanan yang kami tempuh hampir ¾ panjang pulau Jawa. Jakarta – Malang. Ho ho ho…jangan, sekali-kali jangan.

Memang bukan 3 K yang kami cari. Kami hanya ingin mencari suasana yang merakyat. Mana tahu nanti suatu ketika, entah 10, 15, atau 20 tahun lagi ada diantara anggota gerombolan ini yang ingin menjadi anggota legislatif atau malah pemimpin tertinggi eksekutif negeri ini. Sudah memiliki modal paling tidak, pernah menaiki kereta kelas murahan, merakyat, plus foto-foto yang meyakinkan. Aku tersenyum sendiri membayangkan jikalau ini benar-benar terjadi kelak.

Misalnya:

“Perkenalkan nama saya Hardjo SPsi. Saya calon presiden dari Partai Golkar. Walaupun saya tidak lebih cepat dan lebih baik dari kandidat lain, tapi saudara-saudara harus memilih saya karena hanya saya yang pernah naik kereta api kelas ekonomi selama 18 jam. Ini membuktikan betapa merakyatnya saya. Jangan lupa contreng no 2”

Untunglah hal ini tidak akan mungkin terjadi karena Hardjo telah memilih untuk mendarat di Ngurah Rai daripada merakyat selama 18 jam di sini.

Jam 15.00 WIB.

Wow… Aku melihat pemandangan yang luar biasa. Ini terjadi di stasiun kecil bernama Pringkasep. Hanya ada satu petugas di sana. Benar-benar hanya satu. Wah… wah bagaimana ya bapak itu mengatur semuanya, tanyaku membatin. Pertanyaan berikutnya yang melintas di otakku berapa gajinya sehingga mau melakukannya. Atau memang bisa jadi ia melakukan semua itu dengan hati, dengan keikhlasan. Mungkin, semoga.

Tiba-tiba terjadi kegaduhan. Terlihat ransel besar rekan Dahyan basah. Siapalagi yang paling sigap membantu kalau bukan Didit. Orang yang pasti tidak akan pernah terkena bystander effect. Aku sangat mempercayai ini, jadi kalian pun harus percaya. Oh ya, untuk yang belum mengerti bystander effect itu opo, nich tak kasih bocorannya: bahwa orang-orang lebih sulit untuk bergerak menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan ketika dia sedang bersama dengan yang lain daripada ketika ia sendiri. Bahasa sehari-harinya “saling menunggu”. Persis ketika iqamat sudah selesai dibacakan maka mulailah terjadi dorong-dorongan siapa yang akan menjadi imam shalat berjamaah itu.

Ternyata basahnya tas rekan dahyan disebabkan terbukanya tutup kemasan sabun cairnya. Bukan fakta ini yang menarik untuk dicermati tetapi respon yang terjadi karena fakta basahnya tas rekan Dahyan ini. Ini dia responnya:

RWY, VWH, dan Al: hanya bisa melihat karena tidak berada di jajaran bangku yang sama.

Aku dan rekan Dahyan: menarik tas keluar dan memberi tisu untuk melap tas tersebut.

Didit: membersihkan tas rekan Dahyan hingga tangannya berlumuran sabun cair.

Kawan Kanul: berkata dengan santai dibumbui cengiran tidak jelas “tangan Didit kayak habis begituan”.

Hari mulai menyenja. Tak habis-habisnya hijau menemani perjalanan kami. Menyegarkan saraf-saraf yang penat akibat sesaknya ibukota. Ditambah oleh-oleh pengalaman tak terbayar seperti ini, di kereta ekonomi ini. Tiba-tiba kereta berhenti. Aku heran setengah mati. Al juga sepertiku. Mana peronnya, itu kalimat tanya yang terlontar darinya. Jamak kalau kereta ini berhenti di tempat yang tidak ada peronnya, mungkin untuk menunggu kereta lain yang sedang akan melintas. Tapi ini tidak saudara-saudara. Aku menyebut fenomena ini sebagai peron 9 ¾ . Ya peronnya Harry Potter. Bayangkan di tengah persawahan seperti ini ada penumpang kereta yang turun. Seperti ingin melengkapi keanehannya ternyata ada juga yang naik dari peron 9 ¾ ini. Aku menggeleng hingga bergidik.

Published in: on 11 November 2010 at 5:26 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Risalah Bali -Bab III-

Dunia tak luas, maka asertiflah

Sekitar 25 menit di dalam kereta yang juga ternyata sesak itu sampailah kami di stasiun Tebet. Yup sesak, aku juga tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Harusnya menurut siklus normal kehidupan perkeretaan Jakarta, jam-jam padat terjadi pada pagi hari dan sore menjelang malam, namun sekarang adalah jam 12. Apa mungkin gerakan bangun kesiangan pada hari Sabtu sudah coba dijalankan di Jakarta mungkin. Entahlah, tapi itu satu hal, ada satu hal lain yang aku juga tidak tahu, tidak yakin jawabannya. Lama sudah aku perhatikan tentang penggunaan kata ‘AC’ setelah kata ‘ekonomi’ pada kereta ekonomi AC.

Berkali-kali menumpangi kereta jenis ini membuatku mengambil kesimpulan mentah bahwa AC di situ bukan berarti Air Conditioner. Sebab aku tidak melihat adanya AC di langit-langit badan kereta. Hanya ada kipas angin yang begitu banyak di dalam. Putarannya yang super kencang bisa jadi menyebabkan udara menjadi agak mendingin, namun efek sampingnya buatku cukup berat, masuk angin. Untuk itu menurutku gelar AC bagi kereta ekonomi ini adalah “Angin Cepat”.

Keluarlah kami semua dari kereta. Masih seperti rombongan penyu, perjalanan kami melalui peron tetap menjadi daya tarik. Oke, sekarang saatnya menyebrang, untuk menumpangi angkot menuju stasiun Jatinegara. Angkot biru bernomor punggung 44. Naiklah kami.

Benar mungkin kata-kata pepatah “dunia tak selebar daun kelor”, tapi menurutku dunia pasti lebih kecil dari itu. Sudah jauh-jauh dari area kampus masak masih saja ketemunya sama anak psiko lagi. Beberapa detik setelah kami masuk ke angkot 44 ini, masuk pulalah adik-adik tingkat kami. Bukan satu tapi tiga. Perempuan semua. Tersenyum aku dalam hati. Bagaimana tidak, dua diantara mereka juga mengikuti acara yang izin pagi ini. Mereka pasti full melewatinya. Eh, malah ketemu lagi. Tapi ya sudahlah. Di Kampung Melayu mereka turun, tentu dengan kalimat khas kepada orang yang mau pergi jauh “jangan lupa kak oleh-olehnya”.

Lumayan jauh juga perjalanan menuju Jatinegara, ditambah panas Jakarta sungguh membuat ubun-ubun mendidih. Wah bagaimana panas di neraka ya, lamunanku yang satu ini membuatku bergidik sendiri.

Jatinegara

Kami mencari musholla untuk shalat. Tentu saja harus jama’ plus qasar. Jadi shalat Dzuhur dan Asharnya di lakukan dalam satu waktu dan rakaatnya di ringkas menjadi hanya dua untuk masing-masing shalat. Dengan formasi 2-2 itulah aku menjadi imam bagi Al, RWY, dan Didit. Rekan Dahyan dan VWH sedang menunggu giliran sekaligus menjaga tas-tas yang bertumpuk di luar musholla. Setelah semuanya beres dengan urusan spiritual ini, kami pun beranjak menuju persiapan yang sifatnya lebih basic need. Apalagi kalau bukan makan. Selain makan siang, harus ada bekal selama perjalanan. Kami bersepakat untuk memesan nasi bungkus. Tentu saja tidak hanya nasi tapi beserta lauknya juga.

Sebenarnya di masalah ini aku sempat bersitegang dengan RWY. Ia memutuskan kepada semua orang untuk membawa air kemasan ukuran 1.5 liter masing-masing 2 botol ditambah bekal makanan ini. Aku menanyakan kepadanya apakah di perjalanan tidak ada yang jualan air minum atau makanan, apalagi kami mau naik kereta kelas ekonomi. Eh, dia malah menjawab dengan jawaban khas orang yang menderita Generalized Anxiety Disorder. Silahkan saudara-saudara cari sendiri apa arti term itu. Tinggal di-google saja kok. Lebih penting dari itu saudara simak jawabannya ini:

“Kita kan nggak tahu makanannya aman atau tidak, bisa aja kan dikasih apa-apa. Minuman juga kalau disuntik zat-zat tertentu gimana?” Responku saat itu hanya bisa ha ha ha…

Sekarang kami masih menunggu Kawan Kanul. Ups itu dia, dengan topi merah putih mirip topi anak SD, ia masuk menuju kami. Lengkap 7 orang.

Jam 14.00 WIB

Masuklah kami semua ke kereta api kelas ekonomi tujuan Malang ini. Segera kami mendapatkan kursi di gerbong satu. Saat-saat inilah mental survival khas kereta ekonomi diuji. Bayangkan saat anda ingin menduduki kursi yang merupakan hak anda dan ini dapat dibuktikan dengan kesesuaian no di tiket dengan no kursi ternyata kursi tersebut sudah diduduki orang. Hal inilah yang terjadi dengan empat orang temanku seperjalanan. Sementara Al, aku, dan VWH sudah selesai dengan tempat duduk mereka harus berdiplomasi dengan penumpang lain itu.

Mereka tampaknya suami isteri dengan satu anak yang masih kecil. Alasan dari pasangan itu adalah mereka tidak mau anaknya kepanasan karena tempat duduk mereka di sebelah kiri itu katanya tidak berangin. Sederhananya mereka minta untuk bertukar tempat duduk. Tampaknya tidak mudah bagi empat teman tadi untuk memecah lagi. Aku tidak tahu alasannya, mungkin untuk memudahkan koordinasi sepanjang perjalanan. Dengan mengambil empat set tempat duduk berhadapan seperti itukan banyak hal yang bisa dilakukan dengan leluasa.

Untuk inilah mari kita berikan dua jempol untuk RWY atas usaha mempertahankan haknya tanpa menyakiti yang lain. Dengarkan kalimatnya baik-baik.

“Begini mbak, mas kalau nanti anaknya benar-benar menangis boleh deh kita tukaran. Gimana mas nggak masalahkan kalau mas di sebelah sana saja?”

Tanpa ba-bi-bu lagi akhirnya pasangan tersebut pindah. Masih bersungut-sungut tapi ya mereka tidak punya alasan lagi untuk menolak.

Published in: on 11 November 2010 at 5:24 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Risalah Bali -Bab II-

Sekali layar terkembang pantang surut ke belakang 

13 Juni

Seperti yang sudah disepakati di awal (aku tidak tahu kapan juga di sepakatinya tanggal berikut tempat dan jam berkumpul awal, jadi untuk amannya aku kambing hitamkan saja si ‘di awal’ sebagai penentu otoriter di perjalanan ini). Seperti banyak-banyak tertulis di media Facebook dengan menggunakan fitur yang bernama “pesan terusan”. Maka dengan semangat membara-bara pagi itu aku langsung meminta izin kepada panitia acara. Oh ya, malam sebelum berangkat aku memang mengikuti acara kampus di sekitaran wilayah Puncak. Setelah mendapat izin yang agak aneh memang berangkatlah aku ke Depok. Bagaimana tidak aneh? Alasan meninggalkan tempat itu “saya mau jalan-jalan ke Bali”, tentu saja dengan bungkusan kalimat tambahan yang terdengar mulia. Mencari pengalaman, bla-bla-bla. Ha ha ha…luar biasa. Sst…jangan sesekali tiru ini kalau tidak sangat dekat dengan panitia acara yang anda ikuti.

Tepat pukul 07.00 WIB

Sampailah aku di Depok. Sesuai dengan kebiasaan setiap pagi maka aku harus sarapan dulu. Singgahlah aku sebentar ke salah satu warnet langganan. Cek e-mail dulu. Dan anda harusnya tahu bahwa cek e-mail hanyalah alibi karena sebenarnya yang kulakukan adalah mengganti status di Facebook. “Muhammad Akhyar ankonformitas; 36”.

Sekitar 09.00 WIB

Aku tersadar bahwa aku belum packing barang-barang. Sebagai orang yang terbilang jarang naik gunung apalagi membawa-bawa carrier yang super berat itu maka bertanya kepada ahlinya adalah salah satu keputusan yang tepat. Ya, sebagai seorang yang taat peraturan dan sangat teoritis, aku percaya bahwa ada teorinya dalam memasukkan barang-barang ini. Dan aku tidak mau salah dalam menerapkan teori itu.

Kebetulan salah satu teman se-kosku adalah anak MAPALA yang sudah kenyang malang-melintang di dunia perkempingan. Dengan semangatnya dia mulai memberikan ceramah kepadaku.

“Jadi Yar, untuk barang-barang yang jarang dipakai letakkan di tempat paling bawah. Untuk jaket dan barang-barang yang akan terus digunakan letakkan di paling atas. Barang-barang semuanya harus diletakkan ke dalam plastik. Jangan sampai tembus air.”

Ia belum selesai. Kalimat lanjutannya ini perlu aku pisahkan karena membuat aku terkaget-kaget karena terdengar tidak masuk akal.

“kalau bisa bahkan jangan sampai udara bisa masuk.”

Berlebihan memang. Emang pakaian bisa basi apa. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati apa yang disampaikan ini sebenarnya kuliah tentang packing barang-barang apa kuliah tentang standar operasional agar makanan kaleng yang anda produksi tidak mengalami kerusakan. Ah entahlah sebagai manusia awam aku mengangguk-angguk saja. Temanku yang satu ini memang agak di luar patron manusia normal kalau sedang bicara, jadi aku ambil yang logis-logis saja dari nasihat-nasihatnya.

Tepat pukul 10.00 WIB

Aku berangkat menuju kampus dengan menggunakan pakaian yang paling gembel. Asumsiku, hal ini memperkecil probabilitas terjadinya perampokan atau pencurian di jalan. Face validity haruslah mampu meyakinkan orang-orang bahwa gerombolan ini tidak memiliki apa-apa untuk diambil. Pikiran yang sesat memang. Sebodoh-bodohnya orang di dunia ini pastinya tahu kalau, kalau orang yang ingin melakukan perjalanan jauh mestinya membawa bekal uang yang cukup. Dan satu hal penting lainnya, harusnya yang menjadi perampok ataupun pencuri bukanlah orang bodoh. Terbukti ia masih di luar, belum tertangkap.

Kanlam,salah satu kantin di Psikologi. Dua manusia lagi yang belum hadir. Didit dan kawan Kanul. Selidik punya selidik, orang terakhir menyatakan dia langsung menuju Jatinegara. Sementara Didit, sebagaimana aku nyatakan di awal perkenalan kita, ia minta ditunggu karena masih dalam perjalanan. Sementara Hardjo yang saat itu ada di sana lebih memilih untuk menyusul menggunakan pesawat.

Akhirnya semua komplit. Maka berangkatlah rombongan kura-kura ini menuju stasiun UI. Agar cepat dan tidak sempit dibelilah tiket ekonomi AC menuju Tebet. Jujur saja ketika di stasiun, aku merasa gerombolan ini diperhatikan semua orang yang ada di peron. Namun, entahkan karena memiliki kepercayaan diri yang terlampau tinggi atau kepekaan membaca situasi sosial nyaris nol, gerombolan ini dengan tenangnya melenggang bak penyu yang akan memasuki pantai untuk bertelur.

Published in: on 11 November 2010 at 5:20 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Risalah Bali -Bab 1-

Kami itu adalah …

RWY

Begitu aku memanggilnya. Memiliki postur ideal membuatnya banyak dilirik wanita di kampus. Tenang saja dia bukan tipe laki-laki yang suka lirak-lirik, cukup suat-suit saja. He he… kalau ini becanda. Di perjalanan kali ini tampaknya secara tidak langsung ialah pemimpinnya. Ini juga, mungkin, salah satu dari amanah ajaran agama: “jikalau kalian (lebih dari tiga orang) melakukan perjalanan pilihlah salah satu dari kalian menjadi pemimpin perjalanan itu”. Di perjalanan kali ini pun tampaknya dia yang memberi stimulus tentang apa yang akan dilakukan, ke mana arah perjalanan, bahkan hingga di mana tempat makan. Bahkan dengan bantuannya dan koneksi yang ia miliki kita semua dapat menghemat pengeluaran selama 3 hari di Bali. Luar biasa. Satu hal aneh yang selama perjalanan ini aku perhatikan dari dirinya adalah ungkapan lumrah di FB “like this!” terdengar seperti “lais this!” di telingaku saat orang ini mengucapkannya. Oh ya satu lagi saudara harap hati-hati dengan orang ini walau terlihat baik ia adalah orang tersadis dalam perjalanan ini.

VWH Imut

Inilah alamat email orang yang memiliki cadangan devisa tak terbatas ini. Sebagai salah satu orang yang sudah pernah menginjakkan kakinya di pulau Bali saran-sarannya cukup bisa didengarkan. Namun, lebih dari itu manusia pemilik tampang dan usia yang tidak reliabel ini punya spirit luar biasa dalam dua hal yaitu: sebagai fotografer handal perjalanan dan penerjemah bahasa Jawa yang bisa dipertanyakan garansinya. Kemampuannya menjadi fotografer bahkan sempat dijajal oleh seorang bule yang sedang berkunjung ke Tanah Lot. Mengenai kemampuannya berbahasa Jawa sungguh membantu kami dalam mendapatkan makanan dan transportasi murah. Untuk itu belajarlah bahasa Jawa sebelum bahasa Inggris kawan, ingat 60 % penduduk negeri ini adalah Jawa. Satu hal yang membuat orang-orang seperjalanan tertawa dengan perilakunya adalah kebiasaan berkata kasar diiringi ketawa khas he he he…Misal: “dan***k…he he he”; “lama…he he he”; “nggak…nggak he he he”. Dan ini semua pasti berhubungan dengan kamera kesayangannya. Dasar manusia Jombang.

Kawan Kanul

Orang ini pun sudah pernah ke Bali sebelumnya. Ia adalah adalah orang yang terdepan dalam perjalanan menggunakan motor. Ketika menggunakan mobil pun orang yang diberi mandat untuk memegang peta adalah dia. Hanya tampaknya hal ini dilakukan tanpa adanya tes kecerdasan spasial yang cukup valid terhadap orang ini. Ini terbukti dari beberapa perjalanan sempat terjadi kesendatan karena salah jalan. Dalam perjalanan ini beliau tidak bisa mengikuti kita secara full. Ini diakibatkan adanya daya tarikan lain yaitu menjalankan peran sosial tambahan di Bali. Hal ini diakibatkan ikutnya oknum S dalam rencana kali ini. Hal ini tentu saja agak menyebalkan yang lain. Namun, kami kehilangan ia saat ia tiada. Perjalanan terasa sepi. Cetusan-cetusan konyol nyaris tak terdengar, entahkan itu guyonan, tebakan atau sekedar meniru ekspresi orang-orang yang kami temui..

Rekan Dahyan

“Senang bekerja sama dengan anda” adalah quote terpenting orang ini dalam perjalanan. Di antara yang lain ia adalah orang yang paling Indonesia. Ia sudah kemana-mana. Papua, Sulawesi, maklum ia orang Indonesia timur. Walau masih memiliki darah raja Sulawesi, tak tampak rasa tinggi hatinya. Dengan tampang yang khas Mongoloid, yang ketika tertawa hanya menyisakan segaris mata membuat dia banyak diduga anggota seperjalan sedang “Ngangkaaaat!”. Malangnya ia adalah manusia pertama dan satu-satunya yang mendapat SP dalam perjalanan ini. Ia juga pulang dahulu ke Makassar karena ada panggilan orangtua ditambah dengan adanya resesi finansial yang disebabkan pedagang Sukowati terhadap kami.

Didit

Ingin melihat prototype kalimat “homo homini socius” lihatlah orang ini. Dengan tampilan senantiasa mengesankan, khas anak-anak Bandung, aku bisa menyatakan ia yang paling modis diantara kerumunan ini. Namun, entahkan ada hubungannya dengan darah Sunda yang kental mengalir di badannya, dalam perjalanan ini ia adalah satu-satunya orang yang memiliki SC. Maklum ia dikenal sebagai orang yang terakhir dalam melakukan apapun. Saat melakukan perjalanan, kita semua telah bersepakat jangan sampai orang ini berada paling belakang. Kalau pun ia harus didampingi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ini jika tidak terlalu berlebihan. Bayangkan ini (dalam versi ekstrem) semua tindakan dilakukan sambil memikirkan sesuatu dan lebih 1/2 memori perjalanan ini diisi dengan tidur. Namun, jangan salah hanya dialah yang mampu memecahkan tebakan super sulit yang dikeluarkan kawan Kanul.

Al

Gitaris sekaligus memiliki suara yang bagus. Satu-satunya yang memiliki rambut gondrong tebal. Dia adalah tipe manusia yang sangat sulit untuk dideskripsikan oleh seorang penulis. Manusia yang sangat biasa saja. Moderat dalam segala hal. Dalam perjalanan kali ini, sulit sekali mengambil diferensiasi dirinya dibanding dengan yang lain. Namun itulah dia perbedaan dia dengan yang lain. Ialah penghubung kubu-kubu yang ekstrim, menenangkan semuanya.

 

 

Hardjo

Begitu Didit memanggil manusia yang mirip dengan Aa’ Djimmi ini. Tampaknya dalam perjalanan kali ini ia berobsesi mengalahkan Ian Kasela dalam hal berkaca mata hitam. Hampir setiap kali momen foto ia pasti mengenakannya. Kehadirannya bersama tim ini agak terlambat, dia menyusul dengan menggunakan pesawat udara. Hal ini membuatnya dijuluki sebagai orang bermental “Ngurah Rai” sedang yang lain berbangga diri menyebut diri bermental “Gilimanuk”. Namun, begitu walau secara face validity tidak terlalu meyakinkan ia cukup ahli ketika berbicara agama ataupun politik. Saat ini bahkan ia adalah asisten peneliti di lembaga psikologi politik di Fakultas Psikologi UI.
Aku

Aku hanyalah penulis perjalanan ini, lain tidak.
Published in: on 11 November 2010 at 5:18 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Risalah Bali

Prolog

Jikalau benar bahwa melakukan perjalanan jauh mampu membuat seseorang semakin mengenal yang lain, maka ini adalah salah satu usaha kami untuk saling mengenal lebih dekat dan lebih dekat, hingga kata –sahabat- tak cukup lagi merangkumkannya.

Rencana ini begitu lama terbincangkan, hingga hampir-hampir saja menjadi proyek mega wacana berikutnya di antara kami, para laki-laki dari angkatan 2006 Fakultas Psikologi –kalau saya boleh mengindentifikasi “kerumunan” ini sebagai itu-. Memang perlu semacam kerja keras yang sangat keras hingga mungkin mampu merontokkan semangat untuk mempersiapkan UTS UAS untuk memkonkritkan rencana ini. Tak lain hal ini disebabkan banyaknya aktivitas manusia-manusia di dalam kerumunan ini. Maklum semuanya adalah mahasiswa super sibuk, walaupun ada juga yang hanya berpura-pura sibuk agar conform dengan yang lain.

Berlanjut dengan rencana tadi. Awalnya kita sebenarnya ingin melakukan semacam perjalanan yang dilakukan Che Guevara di Amerika Latin dan kita mengubah settingnya di pulau Jawa dengan rute terakhir di pulau Bali. Hanya saja seiring dengan berjalannya waktu tampaknya terjadi revolusi besar-besaran terhadap rencana itu. Perjalanan ini akhirnya berubah menjadi perjalanan menuju Bali dengan menggunakan modal sekecil-kecilnya.

Setelah semua terlihat beres maka disusunlah kekuatan siapa saja yang bakal menjadi duta menuju pulau Bali. Maka lepas dari silang pendapat di antara kami, sedikit seleksi alam, terpilihlah 8 manusia yang akan menuju Bali. Siapa saja orang-orang itu? Mohon bersabar karena sebentar lagi saya akan memperkenalkan mereka satu persatu. Selanjutnya, karena akan panjangnya tulisan ini jika dibuat dalam satu note maka saya akan memecah-mecahnya menjadi beberapa bagian (mungkin hingga belasan jika saya mampu). Selain untuk menghemat waktu dalam membacanya, juga agar risalah itu lebih memiliki makna karena mengangkat tema yang lebih jelas.

Published in: on 11 November 2010 at 5:10 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Tipografi -7-

Tuhan, Cinta, dan Ada

Sudah seminggu aku tergeletak di sini. Beberapa teman lama menjengukku hari ini. Semuanya sama, berharap agar aku sembuh. Doa mereka tinggal aku aminkan saja. Tapi agar aku bisa cukup bermanfaat bagi mereka aku juga doakan mereka, agar mereka diberikan yang terbaik. Aku diam-diam berdoanya, karena aku dengar doa itu lebih didengar oleh Tuhan jikalau yang kita doakan tidak mengetahuinya, di samping itu menurutku jika membantu orang dengan cara berdoa saja sudah pamer lalu bantuan kepada orang lain manalagi yang akan dihitung amalan ikhlas.

Pintu berderik, tiba-tiba. Aroma lembut citrus sedikit mengemuka. Pasti dia, Kiara. Dokter.

Diawali dengan senyum yang dilemparkan padaku, tentu harus dibalas. Walaupun aku pikir, balasanku terasa tak tuntas. Entah mengapa belakangan, otot-otot wajahku sedikit susah dimaksimalkan.

Wajah bersih, alis hitam melengkung, bibir tipis merah merona tanpa pemulas, berjilbab putih, kemeja kotak-kotak hitam putih, bawahan jeans hitam. Itu semua adalah deskripsi yang bisa aku tulis, aku wakilkan dengan kata-kata terhadap perempuan di sampingku saat ini.

Suatu ketika semasa kuliah, beberapa tahun yang lalu, aku bertanya pada seorang dosen. Salah satu dosen yang kuanggap menguasai banyak hal.

“Mas, mengapa bisa ada seseorang yang tidak percaya pada Tuhan?”

“Bagaimana kalau saya tanyakan ke kamu, mengapa bisa ada seseorang yang percaya pada Tuhan?”

“Loh, kok balik nanya mas. Jelas dong mas Tuhan itu ada, kalau gak ada dari mana semua alam semesta ini?”

“Apa buktinya kalau alam semesta ini ada yang menciptakan?”

Aku tidak mau berlarut-larut.

“Ok, deh mas, marilah kita anggap kedua-dua pihak tidak punya bukti yang kuat, tapi paling tidak beriman kepada Tuhan saya anggap lebih aman ketimbang tidak. Jika saja nanti setelah saya mati tidak ada yang terjadi karena Tuhan tidak ada maka saya tidak rugi, tapi jika nanti Tuhan ternyata ada dan menggelar pengadilan terakhir saya sudah dalam keadaan aman karena saya beriman.”

“Hehehe, kamu punya pikiran untung rugi seperti itu karena kamu percaya adanya Tuhan, kalau kamu tidak percaya adanya Tuhan, buat apa kamu berpikir adanya pengadilan setelah kamu mati?”

Semenjak itu aku selalu ingin untuk mengenal dan mencoba mengerti apa sih sebenarnya yang ada di alam pikiran para penidakpercaya Tuhan itu.

Drama terjadi. Aku tidak pernah terpikir sebelumnya, dokter ini yang dikirim untuk pengabul keinginanku itu. Tak bisa terbantah, wanita yang satu ini memang menarik, jejak pikirnya, tutur kata-katanya, desah lakunya senantiasa konsisten, berintegritas.

“Bagaimana mungkin kamu tidak percaya pada Tuhan,” cecarku suatu waktu.

Cepat ia membalas, “aku kira lebih aman untuk memutuskan sesuatu tidak ada sampai bisa dibuktikan dengan cukup kuat sesuatu itu ada.”

Nggak adil dong, ‘ada’ saja yang harus dibuktikan sementara ‘tidak ada’ tidak perlu membuktikan pendapatnya.”

“Hanya ‘ada’ yang bisa dibuktikan, sementara ‘tidak ada’ akan hilang dengan sendirinya jika bukti itu ada.”

Percakapan-percakapan seperti itu, tidak bisa aku berikan kata “sering” terjadinya, tapi “selalu”. Sampai suatu ketika ia berkata, senja saat itu.

“Kamu tahu aku mencintaimu, yah paling tidak aku menyukaimu.”

Aneh, bukannya cinta harusnya sama absurdnya dengan Tuhan di alam pikirannya.

Aku tak berkata apa-apa, hanya senyum (agak meringis). Aku kira itu respon terbaik yang bisa kuberikan saat itu. Aku tahu, dia tahu bahwa aku juga mencintainya, paling  tidak menyukainya.

Ah, entahlah, dia tak percaya Tuhan, aku percaya Tuhan, tapi kami bisa saling menyukai, walau aku tak pernah memverbalkannya. Aneh, sungguh aneh, diorama tak terencana ini malah membuatku bersyukur pada vonis yang menimpaku sehingga harus berbaring menunggu waktu di sini. Di ruang putih berukuran 4×4 meter ini. Aku tak harus memilih cinta Tuhan, cinta dia.

Aku mau berbisik padanya.

“Nanti kalau aku sudah tiada lagi di sini, lalu dengan siapakah kau akan mengajak berbicara ke dalam hatimu, saat kau sendiri, saat kau sepi?”

Hening…

Published in: on 11 November 2010 at 5:02 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Tipografi -6-

Seperti Kembali, Bukan Terhenti

Sementara aku tergeletak di sini, aku kira aku adalah yang paling menderita di dunia ini. Sementara aku tersudut menunggu takdir di sini, aku kira aku adalah yang paling merana di dunia ini. Sementara aku terombang-ambing tak pasti di sini, aku kira aku adalah yang paling malang di dunia ini. Sampai aku lupa saat-saat bahwa aku pernah masih bisa tertawa riang. Sampai aku lupa bahwa aku masih mempunyai orang-orang yang mencintaiku. Bahkan sampai-sampai aku lupa aku masih punya Dia, tuhanku.

Saat mendapatkan sesuatu terkadang kecewa adalah hal yang paling biasa terjadi jikalau apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan apa yang kita peroleh. Menurutku wajar. Aku sungguh sering mendapati diriku, tentu saja sebelum terbaring di sini -atau jangan-jangan sampai terbaring di sini- melakukan itu. Aku berharap agar orang-orang menyukai aku, tapi ternyata mereka malah membenciku. Aku berharap suatu proyek jatuh ke tanganku, tapi ternyata bukan. Aku berharap, tapi ternyata bukan.

Misalkanlah aku mengambil kesimpulan kedua, seperti yang kukatakan sebelumnya, menurunkan sedikit harapan dan cukup puas dengan apa yang ada, maka aku tentu saja tidak akan berubah. Atau secara sederhana aku katakan, aku mengorbankan peningkatan kualitas diri demi mendapatkan sensasi kebahagiaan. Karena itu aku mulai berpikir –sampai saat ini- kebahagiaan bukanlah sesuatu hal yang benar-benar hakikat, bukanlah ujung segala-galanya di dunia ini.

Aku lebih suka berpikir, bahwa hidup di dunia ini adalah untuk terus memperbaiki diri, memperbaiki lingkungan, bahkan jikalau bisa memperbaiki dunia, agar lebih baik dan semakin baik. Aku memutuskan itu karena aku kira itulah yang diperintahkan Tuhan.

Jikalau dalam usahaku aku menemui kegagalan aku selalu saja berpikir bahwa itu adalah harga yang pantas untuk usaha setengah-setengahku. Jikalau aku kira, setelah dilihat-lihat lagi usahaku tidak setengah-setengah, maka aku berpikir bahwa mungkin cuma aku yang bisa menanggungkannya. Tapi, andai aku lihat banyak orang-orang hebat yang pasti juga bisa menjalani yang kualami maka aku selesaikan dengan berpikir bahwa Tuhan pasti punya rencana terbaik untukku.

Lalu, aku mengingat-ingat kembali saat pulang ke kampung halaman. Ada rasa yang berbeda, walau sensasinya cuma sejenak saja –karena tentu saja tidak bisa berlama-lama di sana, aku harus kembali ke tempat kerjaku- aku kira bisa jadi ini yang disebut kebahagiaan. Bisa jadi, rasa bahagia itu muncul saat kita terpancing menuju masa lalu, masa-masa awal kehidupan. Ibarat perjalanan, kita selalu terperangah dan tersenyum melihat awal jalan yang telah kita lalui. Wah, jikalau ini benar adanya maka, bisa jadi kebahagiaan yang sejati itu tidak ada di sini, di dunia, ia hanya ada di sana, di kampung akhirat, di titik terdekat dengan Tuhan.

Published in: on 11 November 2010 at 4:59 pm  Tinggalkan sebuah Komentar